Jumat, 06 Februari 2009

.gundah.

Kutulis kegundahan ini dalam baris yang amat longgar
sebab sajak telah mati bersama pekat malam,
ruhnya terbang dan jasadnya kulumat dan lumurkan ke jari-jari tangan yang sia-sia menancap berbaris lima-lima pada kedua telapak yang sedikit saja baktinya,
ke tungkai kaki yang sia-sia menopang jasad tolol dengan kepala penuh ceracau.
Kutulis kegundahan ini dalam baris yang amat longgar
sebab sajak telah mati meskipun di hadapanku adalah senja dengan awan-awan yang bergantung menutupi sebagian wajah mentari.
Kutulis kegundahan ini sambil diburu wajah-wajah memilukan yang merintih dimangsa lambung sendiri hingga malam begitu cepat datang pada mata mata itu:
malam datang membawa kunang-kunang lalu menyergap di balik kesunyian. Sedangkan aku sibuk berkelana kata meraba di bibir gua, mencari cahya dan rupa.
Sia-sia.

. . .

Ada bayang yang tak pernah pergi
Ada nama yang s’lalu mendiami
serta seutas wajah yang menerangi
Pada hati…
bangkitkan semangat diriku tuk lalui hari-hari
Meski kutau bagiku takkan mungkin lagi ada dirimu

Tetap saja kubiarkan engkau mendiami seluruh taman abadi
antara kuntum bunga mawar yang pernah ada diantara kita
Merekah indah diantara ‘harap dan nyata’
Ada keyakinan yang tak terbeli

Oleh ribuan hari-hari penantian hati
Susuri hidup…
walau tertatih seorang diridan kau tetap disana, diami sudut paling sunyidan suci…